Usung Pop Dut, Rizki Ridho: Kiblat Kita ke Ridho Rhoma

Selasa, 26 Januari 2016 | 10:28:39

 

 

Bintang.com, Jakarta Menjadi penyanyi dangdut yang sukses di ajang pencarian bakat Dangdut Academy Indosiar, membuat nama Rizki dan Ridho semakin dikenal. Apalagi, lagu yang dinyanyikan kembar ini berkiblat kepada anak raja dangdut Rhoma Irama."Kita dangdut tapi nggak terlalu dangdut, kita kiblat nya itu ke Ridho Rhoma yaitu pop dut. Bisa joget bareng koreo bareng," kata Rizki di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (12/1/2016).

Sebagai pendatang baru, Rizki dan Ridho memang bertujuan untuk menghibur lewat dangdut pop dut yang ia nyanyikan. Apalagi, dengan tampil maksimal mereka berharap layak dijadikan seorang duta dangdut.

"Sekarang menghibur masyarakat. Kita juga sekarang dituntut untuk tampil maksimal dan bertanggung jawab. Supaya kita dinilai layak menjadi seorang duta dangdut," lanjut Ridho

Menjadi pedangdut diusia remaja, Rizki dan Ridho pun bangga. Karena bisa menjadi bagian salah satu musik yang berasal dari negeri sendiri. Ia bersyukur, sejak diadakan Dangdut Academy, kini banyak remaja yang menyukai musik dangdut.

"Tinggal kita bagaimana membawakan hal itu supaya menarik dan lebih enak terutama ke remaja. Alhamdulillah sekarang setelah selesai Dangdut Academy banyak yang suka dari remaja sampai anak-anak," tukas Ridho.



Benarkah Lagu Kopi Dangdut Ternyata Hasil Plagiat Hits Venezuela?

Selasa, 26 Januari 2016 | 10:27:44

 

Kapanlagi.com - Pasti tahu dong lagu Kopi Dangdut ciptaan Fahmi Shahab? Lagu yang top hingga luar negeri ini memang sangat catchy dengan musiknya yang seolah mengajak para pendengar untuk bergoyang.

Namun ternyata ada satu lagu yang nada hingga musiknya sangat mirip dengan Kopi Dangdut. Lagu itu berjudul Moliendo Cafe milik Mina. Moliendo Cafe adalah salah satu lagu yang cukup populer di Venezuela dan pernah menjadi hits di Argentina tahun 60-an silam.

Lalu apakah hal itu sebagai tanda bila lagu Kopi Dangdut selama ini hanya sebuah karya plagiat saja?



ORMAS GAFATAR

Selasa, 26 Januari 2016 | 10:26:43


Nasib Eks Gafatar Terancam Tak Jelas

Sejumlah warga eks-Gafatar berada di tempat penampungan di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam XII/Tanjung Pura di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/1/2016). Sebanyak 1.119 warga eks-Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dievakuasi dari Kabupaten Mempawah karena diusir paksa oleh masyarakat setempat pada Selasa (19/1/2016) tersebut, rencananya akan dipulangkan pemerintah ke daerah asal dengan menggunakan KRI Teluk Bone. J(JIBI/Solopos/Antara/Jessica Helena)

Sejumlah warga eks-Gafatar berada di tempat penampungan di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam XII/Tanjung Pura di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/1/2016). Sebanyak 1.119 warga eks-Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dievakuasi dari Kabupaten Mempawah karena diusir paksa oleh masyarakat setempat pada Selasa (19/1/2016) tersebut, rencananya akan dipulangkan pemerintah ke daerah asal dengan menggunakan KRI Teluk Bone. J(JIBI/Solopos/Antara/Jessica Helena)
 
 

Ormas Gafatar, mantan anggotanya yang telah melakukan eksodus dipulangkan, namun nasib mereka selanjutnya masih tak jelas

Harianjogja.com, BANTUL- Nasib puluhan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Bantul terancam tidak jelas. Pemerintah belum memiliki skema penanganan puluhan warga yang dipulangkan paksa dari Kalimantan ke DIY tersebut.

 

Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Bantul Sigit Sapto Rahardjo mengatakan, pemerintah belum memiliki program khusus untuk menindaklanjuti nasib eks anggota Gafatar tersebut setelah mereka tiba di DIY dan melewati masa penampungan selama beberapa hari di Solo dan Sleman.

Bahkan kata dia, pemerintah kebingungan dalam membiayai penanganan anggota eks Gafatar tersebut. “Menggunakan dana alokasi apa belum tahu,” terang Sigit Sapto Rahardjo, Minggu (24/1/2016).

Pemerintah Kabupaten rencananya mulai menangani eks anggota Gafatar setelah mereka ditampung di sebuah lembaga Youth Center di Tlogodadi, Mlati, Sleman, setibanya di Jogja. Pemkab kata dia tengah mengkaji tindakan atau program apa yang tepat dilakukan kepada mereka.

 

Hasil kajian sementara, Pemkab berencana menampung mereka di sebuah rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di wilayah Banguntapan. Namun apakah cara itu diperbolehkan regulasi masih perlu dikaji. Sebab Rusunawa tersebut sejatinya diperuntukkan bagi perumahan buruh di Bantul.

“Kami juga harus berkoordinasi dengan instansi terkait yang menangani Rusunawa apakah bisa ditampung di sana atau tidak,” lanjutnya.

Ia memaklumi puluhan warga asal Bantul itu kini tidak lagi memiliki harta benda setelah mereka memutuskan hengkang ke Mempawah, Kalimantan Barat.

Alhasil saat kembali ke Jogja mereka harus siap memulai hidup baru lagi tanpa harta benda. Sejatinya kata dia, program pemerintah kabupaten di Bantul cukup banyak, namun apakah boleh mengikutkan eks anggota Gafatar Sigit mengklaim belum dapat memastikan.

Eks anggota Gafatar asal Bantul tercatat hingga puluhan orang. Mereka berasal dari Kecamatan Banguntapan, Sewon, Kasihan, Piyungan, Dlingo, Pandak, Kretek, Sedayu dan Pajangan. Anggota paling banyak berasal dari Banguntapan sebanyak 20 orang. Di Mempawah, Kalimantan Barat mereka bergabung dalam Kelompok Tani Pasir Sejahtera di Desa Pasir
Kecamatan Mempawah Hilir.

Editor: | dalam: Bantul |

 



Penjual Tanaman Hias di Jalan Kebun Raya Terancam Digusur

Selasa, 26 Januari 2016 | 09:59:58

 

Stoom Walls memadatkan tanah di lokasi proyek pelebaran jalan Simpang Tiga Faroka, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (25/6/2014). Pelebaran jalan tersebut dilakukan untuk menghadapi padatnya arus lalu lintas menjelang datangnya bulan Ramadan yang disusul musim mudik Lebaran 2014. (Septian Ade Mahendra/JIBI/Solopos)
 
ilustrasi (dok.solopos)
 
 

Penjual tanaman hias di Jalan Kebun Raya terancam digusur oleh Pemkot Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA — Pemkot Jogja berencana memperlebar Jalan Kebun Raya, Rejowinangun, Kotagede, Jogja. Rencana tersebut bakal mengancam keberadaan para penjual tanaman hias di sepanjang jalan tersebut.

Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja Totok Suroto mengatakan pelebaran Jalan Kebun Raya sepanjang 700 meter akan dimulai pada Maret mendatang. Pelebaran akan dilakukan di bagian sisi timur dan barat jalan.

 

Namun, pihaknya perlu memperjelas dahulu batas tanah negara dan tanah milik warga di sepanjang jalan tersebut. Untuk sisi barat sampai batas pagar Gembiraloka Zoo, Totok memastikan tanah itu adalah milik negara, sementara sisi timur masih akan dikoordinasikan dengan Badan Pertanahan Negara (BPN).

“Tahapannya nanti akan dimulai pengukuran oleh BPN untuk memastikan batas persil tanah antara milik rarga dan milik negara,” kata Totok di Kantornya, Senin (25/1/2016).

Rencananya sisi barat jalan akan digunakan untuk jalan dan saluran air hujan atau drainase. Sementara sisi timur, selain untuk jalan, sebagian akan digunakan untuk trotoar. Pelebaran dan penghalusan jalan dimulai dari batas Jalan Kusumanegara (pintu utara Gembiraloka Zoo) hingga Jalan Ki Penjawi.

Totok mengakui di sisi barat jalan terdapat sejumlah pedagang terutama pedagang tanaman hias dan pohon. Karena itu, pihaknya dalam waktu dekat akan berkomunikasi dengan para pedagang tersebut agar pindah.

Editor: | dalam: Kota Jogja |

 



MAKANAN BERBAHAYA

Selasa, 26 Januari 2016 | 09:53:59


Daging Sapi Dicampur Daging Babi Muncul di Gunungkidul

Pedagang memotong daging sapi yang dijual di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (29/5/2014). Asosiasi Pengusaha Importir Daging Sapi (Aspidi) mengajukan izin impor daging sapi hingga 43.000 ton pada kuartal III tahun 2014 ini dengan alasan demi mengantisipasi kenaikan kebutuhan menjelang Lebaran mendatang. Jika permohonan izin itu dikabulkan pemerintah, maka total impor daging sapi pada tahun 2014 ini ditaksir mencapai 180.000 ton. (Abdullah Azzam/JIBI/Bisnis)

Ilustrasi pedagang daging di pasar (JIBI/Harian Jogja/Bisnis Indonesia)
 

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Energi Sumber Daya Mineral (Disperindagkop ESDM) telah mengendus indikasi tersebut, dan aktivitas itu masih terus berlangsung meski jumlahnya berkurang.

Harianjogja.com, WONOSARI – Peredaran daging sapi yang dicampur dengan daging babi di Gunungkidul bukan isapan jempol belaka. Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Energi Sumber Daya Mineral (Disperindagkop ESDM) telah mengendus indikasi tersebut, dan aktivitas itu masih terus berlangsung meski jumlahnya berkurang.

Kepala Disperindagkop ESDM Gunungkidul Hidayat tidak menampik adanya daging oplosan yang beredar di pasaran. dari hasil pemantauan yang dilakukan ada enam penjual yang melakukan praktik kotor itu. “Begitu kami temukan, langsung kami lakukan pembinaan dan sekarang jumlahnya terus berkurang dan tinggal empat,” kata Hidayat kepada wartawan, Senin (25/1/2016).

Menurut dia, saat ini masih ada beberapa penjual yang nekat menjual daging oplosan sapi dengan babi. Petugas dari dinas pun terus melakukan pengawasan dan pembinaan harian. “Kami masih beri kesempatan untuk memperbaiki barang dagangannya, tapi kalau mereka tetap nekat maka sanksi tegas siap diberikan,” tegas mantan Kepala Pengendalian Dampak Lingkungan ini.

 

Hidayat meminta kepada para pedagang untuk jujur. Hal tersebut dibutuhkan agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. “Pembeli juga berhak tahu apakah daging yang dijual itu daging sapi atau daging babi. Di sinilah dibutuhkan kejujuran penjual agar masyarakat tidak menjadi khawatir,” tegasnya.

Adanya daging oplosan di Gunungkidul diperkuat dengan pengambilan sampel yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Bibit Pakan Ternak dan Diagnostik Kehewanan (BPBPTDK) DIY pada akhir 2015. Saat hasil pantauan disampaikan di Pemerintah Kabupaten Bantul beberapa waktu lalu, ternyata di Gunungkidul tak luput dari peredaran tersebut.

Editor: | dalam: Gunung Kidul |

 



GANGGUAN CUACA

Selasa, 26 Januari 2016 | 09:42:40


Puncak Hujan Dimulai

Ilustrasi (JIBI/Solopos/Reuters)

Ilustrasi (JIBI/Solopos/Reuters)
 
 

Gangguan cuaca melanda sejumlah wilayah di Sleman. BPBD Sleman mengimbau kepada warga agar mewaspadai puncak musim hujan.

Harianjogja.com, SLEMAN — Masyarakat diimbau mewaspadai puncak musim hujan. Hujan disertai angin kencang dalam tiga hari terakhir melanda sejumlah wilayah di Sleman. Meski tidak memakan korban jiwa, namun nilai kerugian dinilai cukup tinggi.

Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito menjelaskan, di wilayah Sleman utara seperti Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan sering dijumpai awan cumulonimbus (CB). Pembentukan awan tersebut berpengaruh terhadap adanya petir, hujan disertai angin kencang.

 

“Hari ini [Senin,25/1] angin kencang melanda wilayah Turi dan Pakem, sejumlah pohon tumbang. Sebelumnya angin kencang juga melanda wilayah Minggir dan Gamping,” katanya, Senin (25/1/2016).

Menurut Julisetiono,  hujan disertai angin kencang yang terjadi Senin sekitar pukul 14.00 WIB menyebabkan sejumlah pohon tumbang di 21 titik, baik di Kecamatan Turi, Pakem, Ngaglik dan Sleman. Dalam peristiwa tersebut, beberapa rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Sebanyak 11 rumah rusak ringan dan  dua rumah rusak sedang.

“Di samping itu juga terjadi hujan es di Dusun Tunggularum, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi. Data ini kami dapatkan berdasarkan laporan yang masuk pukul 18.00 WIB,” sambung dia.

Julisetiono menyatakan, semua wilayah di Sleman memiliki potensi gangguan angin kencang. Hal itu disebabkan karena pertumbuhan pohon terjadi di semua wilayah. Untuk mengantisipasi risiko bencana, BPBD terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dia berharap agar masyarakat menebang pohon yang dinilai berbahaya. Selama ini, banyak kasus pohon tumbang yang berdekatan dengan rumah. “Kami sudah berkomunikasi dengan relawan dan masyarakat agar bersama-sama memiliki rasa kesiapsiagaan bencana,” ujarnya

Editor: | dalam: Sleman |


BANDARA KULONPROGO

Selasa, 26 Januari 2016 | 09:38:32


Penunjukkan Tim Appraisal Belum Bisa Dilakukan

Masterplan bandara baru Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo. (Istimewa)

Masterplan bandara baru Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo. (Istimewa)
 
 

Bandara New Yogyakarta International Airport masih dalam tahap pembangunan awal. Rencana penunjukkan tim appraisal sebagai langkah awal pembebasan lahan belum dilakukan karena sampai saat ini data final hasil pengukuran dan pendataan belum diserahkan.

Harianjogja.com, WATES — PT Angkasa Pura I belum bisa melakukan penunjukan tim appraisal terhadap calon lokasi pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Hal itu dikarenakan, sampai saat ini data final hasil pengukuran dan pendataan lahan calon lokasi belum diserahkan.

 

Project Manager Kantor Proyek Pembangunan Bandara NYIA PT Angkasa Pura I, Sujiastono mengatakan bahwa pengadaan appraisal tidak bisa dilakukan sembari menunggu menyempurnaan hasil pengukuran dan pendataan lahan dari BPN setempat. PT Angkasa Pura I membutuhkan data final dari BPN setempat sebagai landasan kegiatan.

“Kalau paralel, seolah saya sudah tahu datanya dong,” ujar Sujiastono, Senin (25/1/2016).

Terkait efek dari banyaknya laporan keberatan yang diterima BPN, Sujiastono enggan berspekulasi. Dia percaya jika BPN punya strategi untuk memperlancar proses klarifikasi dan koreksi.

 

“Nanti akan ketahuan [pembangunan molor atau tidak] kalau sudah penyerahan data final,” ucap dia.

Perihal peletakan batu pertama yang akan dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla bisa dilakukan pada Mei mendatang, Sujiaastono menyatakan belum bisa memberikan kepastian.

Meski demikian, dia mengungkapkan setidaknya masih dibutuhkan waktu 115 hari lagi kerja paska penyerahan data final sebelum pembayaran ganti rugi bisa dilakukan.

“Pengadaan [appraisal] 30 hari, proses pelaksanaan appraisal di lapangan 30 hari, lalu musyawarah 30 hari kerja juga. Bisa jadi 115 hari lebih [dihitung dengan hari kalender],” tandas Sujiastono.

 





telepon / sms
Perusahaan 0274372180 Umum 0274419956 Siaran 0274376470 SMS 0817272800
kontak online
link partner
Iklan Baris