ORMAS GAFATAR

Selasa, 26 Januari 2016 | 10:26:43


Nasib Eks Gafatar Terancam Tak Jelas

Sejumlah warga eks-Gafatar berada di tempat penampungan di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam XII/Tanjung Pura di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/1/2016). Sebanyak 1.119 warga eks-Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dievakuasi dari Kabupaten Mempawah karena diusir paksa oleh masyarakat setempat pada Selasa (19/1/2016) tersebut, rencananya akan dipulangkan pemerintah ke daerah asal dengan menggunakan KRI Teluk Bone. J(JIBI/Solopos/Antara/Jessica Helena)

Sejumlah warga eks-Gafatar berada di tempat penampungan di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam XII/Tanjung Pura di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/1/2016). Sebanyak 1.119 warga eks-Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dievakuasi dari Kabupaten Mempawah karena diusir paksa oleh masyarakat setempat pada Selasa (19/1/2016) tersebut, rencananya akan dipulangkan pemerintah ke daerah asal dengan menggunakan KRI Teluk Bone. J(JIBI/Solopos/Antara/Jessica Helena)
 
 

Ormas Gafatar, mantan anggotanya yang telah melakukan eksodus dipulangkan, namun nasib mereka selanjutnya masih tak jelas

Harianjogja.com, BANTUL- Nasib puluhan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Bantul terancam tidak jelas. Pemerintah belum memiliki skema penanganan puluhan warga yang dipulangkan paksa dari Kalimantan ke DIY tersebut.

 

Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Bantul Sigit Sapto Rahardjo mengatakan, pemerintah belum memiliki program khusus untuk menindaklanjuti nasib eks anggota Gafatar tersebut setelah mereka tiba di DIY dan melewati masa penampungan selama beberapa hari di Solo dan Sleman.

Bahkan kata dia, pemerintah kebingungan dalam membiayai penanganan anggota eks Gafatar tersebut. “Menggunakan dana alokasi apa belum tahu,” terang Sigit Sapto Rahardjo, Minggu (24/1/2016).

Pemerintah Kabupaten rencananya mulai menangani eks anggota Gafatar setelah mereka ditampung di sebuah lembaga Youth Center di Tlogodadi, Mlati, Sleman, setibanya di Jogja. Pemkab kata dia tengah mengkaji tindakan atau program apa yang tepat dilakukan kepada mereka.

 

Hasil kajian sementara, Pemkab berencana menampung mereka di sebuah rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di wilayah Banguntapan. Namun apakah cara itu diperbolehkan regulasi masih perlu dikaji. Sebab Rusunawa tersebut sejatinya diperuntukkan bagi perumahan buruh di Bantul.

“Kami juga harus berkoordinasi dengan instansi terkait yang menangani Rusunawa apakah bisa ditampung di sana atau tidak,” lanjutnya.

Ia memaklumi puluhan warga asal Bantul itu kini tidak lagi memiliki harta benda setelah mereka memutuskan hengkang ke Mempawah, Kalimantan Barat.

Alhasil saat kembali ke Jogja mereka harus siap memulai hidup baru lagi tanpa harta benda. Sejatinya kata dia, program pemerintah kabupaten di Bantul cukup banyak, namun apakah boleh mengikutkan eks anggota Gafatar Sigit mengklaim belum dapat memastikan.

Eks anggota Gafatar asal Bantul tercatat hingga puluhan orang. Mereka berasal dari Kecamatan Banguntapan, Sewon, Kasihan, Piyungan, Dlingo, Pandak, Kretek, Sedayu dan Pajangan. Anggota paling banyak berasal dari Banguntapan sebanyak 20 orang. Di Mempawah, Kalimantan Barat mereka bergabung dalam Kelompok Tani Pasir Sejahtera di Desa Pasir
Kecamatan Mempawah Hilir.

Editor: | dalam: Bantul |

 

telepon / sms
Perusahaan 0274372180 Umum 0274419956 Siaran 0274376470 SMS 0817272800
kontak online
link partner
Iklan Baris